Menelusuri Jejak Sejarah Prostitusi Di Salatiga

Dunia Germelap Menelusuri Jejak Sejarah Prostitusi Di Salatiga – Sebagai kota paling toleran nomor dua di Indonesia versi Setara Institute. Kota Salatiga layak disebut memiliki toleransi tinggi terhadap apa pun termasuk prostitusi. Kendati lokalisasi satu- satunya sudah dinyatakan ditutup tahun 2000an. Namun, faktanya aktivitas penjaja syahwat masih tetap berlangsung. Seperti apa perjalanan para pekerja seks komersial (PSK) tersebut.  Vbandar Login

Menelusuri Jejak Sejarah Prostitusi Di Salatiga

Seorang perempuan muda, dengan make-up agak menor, berambut pirang dan berpakaian minimalis mengendarai sepeda motor menjelang senja. Melewati jalan Diponegoro selanjutnya berbelok menuju Jalan Ki Penjawi, tujuannya jelas yakni area Wisata Karaoke Sarirejo, terletak di Kelurahan Sidorejolor, Sidorejo, Kota Salatiga. Begitu tiba di lokasi, motornya diparkir di salah satu tempat Karaoke serta bergegas bergabung bersama rekan ”sejawatnya”.

Perempuan muda tersebut, selanjutnya banyak mengumbar senyum terhadap para laki-laki yang bertandang ke tempat kerjanya. Ya, ia biasa disebut sebagai pemandu karaoke (PK) atau pemandu lagu (PL). Kendati suaranya tak merdu- merdu amat, bahkan cenderung fals, namun, bermodalkan tubuh yang semok plus keganjenan, toh faktanya banyak konsumen yang membookingnya. Untuk menemani tamu selama 1 jam, dirinya memperoleh imbalan berkisar Rp 30.000- Rp 50.000.

Di lokasi Wisata Karaoke Sarirejo, PK-PK seperti ini jumlahnya tak terhitung. Maklum, tempat karaoke yang ada totalnya 50 an, bila rata- rata satu tempat terdapat 10 perempuan, maka totalnya mencapai 500 orang PK yang saban malam bertugas di sini. “Tugasnya selain menemani tamu, juga mendorong tamunya agar menambah minuman keras (miras) yang dikonsumsinya,” kata Adi (35) mantan pelanggan setia dunia malam yang belakangan bertobat.

Semakin banyak tamunya menenggak miras, maka secara otomatis, pundi- pundi pengelola ikut terdongkrak. Dan, minuman laknat tersebut memang merupakan sumber duit terbesar di lokasi ini. Sebab, harganya jelas lebih mahal dibanding harga di luar, bahkan ada yang mematok harga dua kali lipat. “Semakin kepala pusing akibat miras, maka semakin tak terkontrol dalam memesan botolan,” ungkap Adi.

Menelusuri Jejak Sejarah Prostitusi Di Salatiga

Di kawasan yang hanya seluas satu RW ini, diduga perputaran uang setiap malamnya mencapai ratusan juta, hitungan kasar saja, 50 tempat karaoke omzet permalam rata-rata minimal menangguk Rp 10 juta. Hasilnya Rp 500 juta! Sungguh sesuatu yang menggiurkan di tengah sulitnya mencari uang halal. “Tidak usah heran kalau di sini pak anu mau pun pak nganu punya beberapa room,” kata salah satu mantan PK.

Di luar menemani tamu bernyanyi, PK biasanya juga bisa dibooking untuk keperluan yang lain. Apa lagi kalau bukan demi pelampiasan syahwat sesaat, tarifnya berkisar Rp 150.000-Rp 300.000 sekali kencan. Body dan wajah seorang PK ikut berperan menentukan rendah tingginya tarif. Kendati tak semuanya bersedia diajak ngamar, tapi hampir bisa dipastikan 70 persen ogah menolak ajakan sampingan tersebut.

Berbeda jaman Sarirejo masih sebagai lokalisasi PSK, tamu langsung to the point dalam bertransaksi esek-esek. Di mana, begitu tamu datang, memandang PSK yang dinilai rupawan, maka langsung deal dan ngamar di tempat. Sebaliknya, yang terjadi sekarang, tamu harus melalui ritual berkaraoke, nenggak miras, transaksi baru bisa membawa keluar perempuan penjaja cinta sesaat itu. Tentunya, serangkaian prosesi tersebut semakin menguras isi kantong.

Ya, hal ini memang merupakan bagian dari inovasi para mucikari. Saat lokalisasi diberangus, mereka pun kreatif mengembangkan industri esek-esek melalui berbagai cara. Karena karaoke tengah menjadi trend sejak tahun 2005an, maka cara itulah yang ditempuh. Kendati investasi yang dibenamkan lumayan besar, namun break event point (BEP) juga relatif cepat.

Menelusuri Jejak Sejarah Prostitusi Di Salatiga

Samad sang Lagenda Sembir

Berbicara Wisata Karaoke Sarirejo, sepertinya kurang pas tanpa mengupas awal keberadaannya. Kawasan ini dulunya dikenal sebagai lokalisasi bernama Sembir yang dirintis oleh almarhum Samad. Pria bertubuh agak gemuk tersebut merupakan lagenda Sembir hingga akhir hayatnya. Di tahun 70 an hingga 90 an, dirinya dikenal merupakan mucikari yang mempunyai anak buah berwajah lumayan.

Sebelum dirintis berdirinya lokalisasi Sembir, di tahun 60 an para PSK liar biasa mangkal di gang Dieng dan di depan gedung bioskop Reksa. Gang yang hanya selebar 1,5 meter tersebut, dijadikan tempat mangkal perempuan-perempuan bergincu tebal. Untuk “mengeksekusi” PSK idamannya sendiri, pria hidung belang hanya memanfaatkan sebuah rumah besar berdinding papan. Rumah tersebut tidak memiliki kamar, yang ada hanyalah ruangan besar yang disekat kain korden seadanya.

“Namanya saja jaman susah, jadi ya hanya dipan kayu berjajar terus penyekatnya menggunakan kain seadanya. Jadi kalau ada PSK melayani pasiennya, sementara PSK lain juga menunaikan tugasnya ya satu sama lain saling mendengar,” kata H. Bambang Soetopo (70) seorang tokoh masyarakat Kota Salatiga.

Mungkin karena dianggap mencemari wajah kota, akhirnya tahun 70 an pemerintah kota (Pemkot) Salatiga mencarikan lokasi yang jauh dari pemukiman. Kawasan yang ditunjuk berupa lereng tandus berundak- undak yang berada di pinggir hutan karet. Dengan letaknya yang memiliki sudut kemiringan hampir 70 derajat, ditambah tidak adanya sarana transportasi, dianggap mampu “membunuh” prostitusi.

Kendati mendapat lokasi yang sangat tidak menguntungkan, namun Samad sang lagenda tidak surut sedikit pun. Ia merintis berdirinya rumah bordil, hasilnya ternyata di luar dugaan. Pria hidung belang rela berjalan kaki sejauh 3- 4 kilometer hanya untuk menyalurkan syahwatnya. Keberhasilan Samad inilah yang memicu gairah mucikari lainnya untuk berlomba mendirikan rumah- rumah bordil ala kadarnya.

Menelusuri Jejak Sejarah Prostitusi Di Salatiga

“Samad sendiri setahu saya bukan berasal dari gang Dieng, tapi dia berasal dari salah satu gang di sekitar Jalan Jendral Sudirman bagian atas,” ungkap Bambang Soetopo yang dibesarkan di dekat kawasan gang Dieng.

Disebut ala kadarnya, karena waktu itu rumah- rumah untuk bertransaksi seks hanya terbuat dari kayu berdinding papan. Bahkan, kasurnya bukan sejenis busa yang empuk mentul- mentul. Namun, hanya kasur kapas lusuh ditopang ranjang kayu sederhana. Tak pelak, bila seorang PSK menunaikan tugasnya, terkadang mengeluarkan bunyi engkrek-engkrek akibat gesekan kayu yang tengah menahan beban.

Di sini, terdapat dua golongan hidung belang. Yang pertama adalah kaum berkantong tipis, ia harus berjalan kaki untuk menuju lokalisasi Sembir (maklum ojek saat itu belum ada). Sedangkan laki- laki terakhir adalah kaum berduit yang tentunya malas berjalan kaki. Waktu itu, di depan Pasar Berdikari terdapat sejumlah angkutan plat hitam berupa sedan- sedan tua dengan berbagai merk. Mobil- mobil tersebut, setiap saat siap mengantar calon konsumen esek- esek baik siang mau pun malam.

Hingga memasuki tahun 90an, lokalisasi Sembir namanya diubah menjadi Sarirejo. Mungkin pertimbangannya untuk memilah nama sebuah dusun di perbatasan Salatiga yang kebetulan bernama Sembir. Agar tidak menimbulkan kerancuan, akhirnya lokalisasi Sarirejo dipakai dan terus berkembang hingga sekarang.

Sampai memasuki tahun 2000an, Pemkot Salatiga rupanya sadar diri, lokalisasi Sarirejo akan menimbulkan stigma negatif bagi nama kota kecil tersebut. Akhirnya, lokalisasi dinyatakan ditutup. Kendati begitu, para mucikari tetap membuka praktik secara sembunyi-sembunyi. Akibatnya, Dinas Sosial, Sat Pol PP dan Polres setempat kerap menggelar operasi pembersihan. Hal tersebut berlangsung terus menerus sampai kisaran tahun 2005.

Menelusuri Jejak Sejarah Prostitusi Di Salatiga

Karena ladangnya mulai diusik, beberapa mucikari pun berinovasi. Mereka kerap melakukan study banding ke Bandungan, Kabupaten Semarang yang memang terlebih dulu merintis berdirinya karaoke mau pun kafe remang- remang. “Tahun- tahun itu, saya sering diajak main ke Bandungan oleh seorang mucikari di Sarirejo,” kata salah satu petugas keamanan di Salatiga.

Rupanya, keluyuran ke Bandungan tak sekedar berburu perempuan PSK. Namun, mucikari laki-laki tersebut juga melakukan observasi terhadap bisnis karaoke, ia mempelajari bentuk bangunan, manajemen hingga PK yang layak jual. Sekarang, mucikari tersebut menjadi pemilik beberapa karaoke terbesar di Sarirejo. Begi pun para mantan germo lainnya, secara berjamaah mereka bersatu padu membongkar rumah bordilnya serta menyulap jadi tempat hiburan malam.

Konsisi sekarang, perkembangannya sangat luar biasa. Tidak ada lagi rumah bordil berdinding papan, semuanya telah direnovasi total menjadi bangunan permanen yang menelan biaya ratusan juta. Begitu pun pemainnya, tak sebatas para mantan mucikari, banyak pebisnis Salatiga yang ikut membenamkan investasi di sini. Maklum, namanya saja bisnis basah, tentunya yang ngiler ya berjibun.

Begitu pun di luar Sarirejo, para pemilik duit lebih suka ikut bermain di bisnis basah ini. Dalam catatan, setidaknya terdapat 8 tempat karaoke yang tersebar di berbagai jalan protokol. Ada yang mengemasnya dengan istilah karaoke keluarga, namun terdapat yang secara terang- terangan berplat kuning. Semua lancar- lancar saja, tak pernah diusik oleh siapa pun.

Menelusuri Jejak Sejarah Prostitusi Di Salatiga

Begitulah secuil penelusuran tentang jejak sejarah prostitusi di kota paling toleran, yakni Salatiga. Kendati Presiden sudah berganti tujuh kali, Walikota telah dijabat puluhan orang, namun, seiring perkembangan jaman prostitusi pun ikut bertransformasi. Pertanyaannya, kenapa sulit diberangus? Jawabannya sederhana, karena tingginya permintaan pasar ditambah berlimpahnya stock, akibatnya ya seperti ini.

Bahkan, satu tahun terakhir ini malah terbentuk komunitas pecinta karaoke yang memiliki member ribuan dan baru saja menggelar pesta hari jadinya secara meriah. Ah, Salatiga memang selalu penuh warna.

Related Post

  • 10 Tempat Nongkrong Di Denpasar Yang Hits 150x150

    10 Tempat Nongkrong Di Denpasar Yang Hits

    Dunia Germelap 10 Tempat Nongkrong Di Denpasar Yang Hits - Denpasar yang menjadi Ibu Kota Bali memang terkenal akan budaya dan wisata alamnya. Jika sedang tak ingin berjelajah, kamu pun bisa
  • 8 Tempat Nongkrong Di Jakarta Timur Yang Enjoy 150x150

    8 Tempat Nongkrong Di Jakarta Timur Yang Enjoy

    Dunia Germelap 8 Tempat Nongkrong Di Jakarta Timur Yang Enjoy - Kehidupan ibu kota yang padat mendorong kebutuhan akan tempat yang nyaman untuk nongkrong dan melepas penat. Bagi yang sedang berada di
  • 7 Kafe Instagramable Di Kota Purwokerto 150x150

    7 Kafe Instagramable Di Kota Purwokerto

    Dunia Germelap 7 Kafe Instagramable Di Kota Purwokerto - Kota Purwokerto merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah yang memiliki perkembangan pesat. Dari berbagai sektor yang pastinya berdampak
  • 10 Tempat Nongkrong Di Jakarta Barat Yang Hits 150x150

    10 Tempat Nongkrong Di Jakarta Barat Yang Hits

    Dunia Germelap 10 Tempat Nongkrong Di Jakarta Barat Yang Hits - Padatnya Jakarta Barat memang kadang bikin pusing. Tapi tenang, kamu gak bakal kehabisan tempat yang oke buat santai kok. Vbandar
  • Menguak Prostitusi Para ABG Di Apartemen 150x150

    Menguak Prostitusi Para ABG Di Apartemen

    Dunia Germelap Menguak Prostitusi Para ABG Di Apartemen - Praktik prostitusi di Kota Bekasi yang menjadikan apartemen sebagai lokasi eksekusi semakin marak. Para perempuan penjaja seks tidak lagi